Listrik Gratis untuk Server dengan Tenaga Surya: Internet Tak Pernah Mati

Panel Surya

Pada era digital yang serba terhubung, ketersediaan internet 24 jam sehari adalah suatu keharusan, terutama bagi mereka yang mengelola server website, server kasir, dan berbagai layanan lainnya. Menjawab tantangan ini, seorang kreator teknologi, Nanang, berbagi cara merakit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sederhana yang mampu menjaga servernya tetap menyala tanpa putus, bahkan saat PLN mati.

Nanang memulai proyeknya dengan membeli panel surya yang kini terpasang di atap rumahnya. Ia mengungkapkan bahwa servernya sudah bisa menyala selama 24 jam berkat penggunaan inverter kenica yang berfungsi mirip UPS, mem-backup listrik dari baterai saat PLN mati. Namun, Nanang ingin lebih mandiri dengan menggunakan tenaga surya sepenuhnya.

Menghitung kebutuhan daya adalah langkah pertama. Konsumsi daya servernya sekitar 84 watt, dan karena server menyala terus-menerus, ini berarti butuh sekitar 2.6 kWh per hari. Mengingat efisiensi panel surya yang hanya sekitar 60%, ia menghitung bahwa ia membutuhkan total 3.360 watt dari panel surya untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Dengan perhitungan waktu optimal sinar matahari di Indonesia sekitar 5 jam per hari, ia membutuhkan panel dengan total 672 watt-peak (WP).

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Nanang menggunakan tiga panel surya: dua berkapasitas 150 WP dan satu 50 WP. Namun, ini belum cukup untuk operasional 24 jam penuh, karena keterbatasan baterai yang ia miliki. Baterai yang ia gunakan adalah jenis lithium ferofosfat (LiFePO4) berkapasitas 24V 100Ah, yang idealnya membutuhkan empat unit untuk operasional penuh, tapi Nanang baru mampu membeli dua.

Proses instalasi PLTS ini ternyata cukup sederhana. Panel surya ditempatkan di atap dengan rangka baja ringan, energi yang dihasilkan dialirkan melalui Solar Charge Controller (SCC) ke baterai, dan inverter mengubah tegangan baterai menjadi arus listrik AC yang digunakan untuk menyalakan server. Meskipun belum sempurna dan masih membutuhkan tambahan baterai, Nanang sudah berhasil mengurangi ketergantungan pada PLN dan mendukung program pemerintah untuk energi terbarukan.

Nanang mengakui bahwa biaya untuk merakit PLTS tidaklah murah, menghabiskan sekitar 13-15 juta rupiah, dengan komponen paling mahal adalah baterai dan inverter. Namun, dengan semangat dan kreativitas, ia yakin proyek ini akan terus berkembang dan memberikan manfaat besar, tidak hanya untuk dirinya tetapi juga sebagai inspirasi bagi yang lain.

Dengan langkah-langkah yang teliti dan perhitungan yang matang, Nanang berhasil menunjukkan bahwa listrik gratis untuk server dengan tenaga surya bukanlah impian. Ini adalah inovasi yang bisa dicapai dengan tekad dan pengetahuan yang tepat, memastikan internet tetap hidup tanpa terputus, apapun yang terjadi.