Lahan Tetap Subur di Musim Kemarau dengan Sistem Multycropping Bisa Panen Berbagai Jenis Sayuran

Wisata pertanian

Dwiartono, seorang petani dari Desa Kepatian, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, telah menciptakan terobosan menarik dalam dunia pertanian. Dengan latar belakang pendidikan pertanian yang dimilikinya, Dwiartono berhasil mengubah lahan pertaniannya yang dulunya hanya menghasilkan satu jenis tanaman menjadi lahan yang subur sepanjang tahun dengan menerapkan sistem multycropping.

"Saya melihat potensi besar pada lahan yang saya kelola. Tahun 2018 lalu, saya mulai eksperimen dengan menanam lebih dari 12 jenis tanaman sayuran secara bersamaan. Hasilnya luar biasa, semua tanaman tumbuh dengan baik dan mampu bertahan bahkan di musim kemarau," ungkap Dwiartono.

Sistem multycropping yang diterapkannya tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menarik perhatian masyarakat. "Kami mengundang lebih dari 300 petani dari berbagai daerah untuk melihat keberhasilan panen perdana kami. Ini adalah langkah awal untuk memperkenalkan konsep pertanian yang berkelanjutan dan menguntungkan secara ekonomis," tambahnya.

Dengan pendekatan ini, Dwiartono bukan hanya berhasil memecahkan masalah teknis dalam budidaya pertanian, tetapi juga mengatasi tantangan pemasaran. "Kami tidak hanya mampu menanam dengan baik, tetapi juga menjual langsung kepada konsumen. Hal ini memastikan harga yang adil bagi petani dan kualitas yang baik bagi konsumen," jelasnya.

Selain itu, keberhasilan Dwiartono juga membuka peluang baru dalam sektor agrowisata dan edukasi pertanian. "Kami menyambut para pengunjung untuk tidak hanya memetik sayuran langsung dari kebun, tetapi juga belajar tentang praktik pertanian yang kami terapkan. Ini adalah cara kami untuk berbagi pengetahuan dan membangun kesadaran akan pentingnya pertanian yang berkelanjutan," ujarnya.

Dampak Positif Bagi Masyarakat

Inovasi Dwiartono tidak hanya menciptakan lahan yang subur di musim kemarau, tetapi juga memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk terlibat dalam pertanian. "Saya berharap lebih banyak pemuda yang melihat pertanian bukan hanya sebagai pekerjaan, tetapi juga sebagai investasi masa depan yang menjanjikan," pungkas Dwiartono.

Dengan demikian, langkah-langkah Dwiartono tidak hanya mengubah paradigma pertanian lokal, tetapi juga memberikan harapan baru untuk masa depan pertanian yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan di Indonesia.